Laporan Pajak Laporan Pajak
Selamat bergabung keluarga kemenpora RI Selamat bergabung keluarga kemenpora RI

Ramadhita Putra Purnomo, Pemuda Asal Nganjuk Ubah Limbah Jadi Minyak Goreng

INDONESIA memiliki pasokan kelapa sawit yang sangat banyak di penjurunya, bahan baku minyak goreng itu bahkan sudah diproses secara tradisional oleh masyarakat sebelum adanya industri minyak kelapa saat ini, hal itu sejalan dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar menggunakan teknik memasak ‘menggoreng’ di setiap waktu makannya. Tak heran jika limbah memasak yaitu minyak jelantah menjadi salah satu masalah yang dihadapi berkaitan dengan pencemaran lingkungan.

Ramadhita Putra Purnomo, Pemuda Asal Nganjuk Ubah Limbah Jadi Minyak Goreng Ramadhita Putra Purnomo atau akrab disapa Rama, pemuda asal Desa Pandantoyo, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur (foto: dok)

INDONESIA memiliki pasokan kelapa sawit yang sangat banyak di penjurunya, bahan baku minyak goreng itu bahkan sudah diproses secara tradisional oleh masyarakat sebelum adanya industri minyak kelapa saat ini, hal itu sejalan dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar menggunakan teknik memasak ‘menggoreng’ di  setiap waktu makannya. Tak heran jika limbah memasak yaitu minyak jelantah menjadi salah satu masalah yang dihadapi berkaitan dengan pencemaran lingkungan. 

Ramadhita Putra Purnomo atau akrab disapa Rama, pemuda asal Desa Pandantoyo, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur memiliki keresahan terhadap kurangnya proses pengolahan limbah minyak yang sudah digunakan Ibunya memasak, ia mengatakan bahwa risiko kesehatan juga menghantui lingkungannya tinggal karena warga desa yang memiliki usaha makanan, selalu menggunakan minyak jelantah untuk memasak terus menerus, tak lain karena faktor ekonomis yaitu mengurangi biaya produksi yang tinggi jika harus menggunakan minyak baru.

“Tahun 2020 saat Covid-19 melanda, terjadi kelangkaan minyak dan tingginya harga minyak di wilayah tempat tinggal saya. Hingga di tahun 2021 saya mulai aktif merancang penyulingan minyak dan mengajak warga sekitar untuk berpartisipasi dalam proses penyulingan minyak” ujar Rama.

Untuk mewadahi tujuan Rama, ia mendirikan Rumah Inovasi Teknologi (Rumitek) di Desanya bersama dengan rekan mahasiswa dan warga sekitar yang beroperasi secara mandiri. Urusan inovasi dan bidang penelitian bukan barang baru bagi Rama. Ketika duduk di bangku SMAN 1 Kertosono, ia sudah terbiasa melakukan penelitian. 

“Waktu SMA, sudah pernah, dulu ikut di LIPI waktu di Serpong. Ada penelitian. Ada 6 bulan difasilitasi di lab Serpong  untuk belajar dengan para peneliti terkait pengambilan ekstrak daun mangrove, metode  tersebut kemudian saya gunakan untuk melakukan penyulingan minyak di Rumitek.  ”tutur Rama yang juga tercatat sebagai Mahasiswa di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Rama menuturkan bahwa Inovasi Teknologi yang digagasnya diberi nama “Abang Sayang” akronim dari Arang Brambang Saring Minyak Jadi Terang, cara mengolahnya yaitu cukup mudah hanya memanfaatkan kulit bawang yang sudah disangrai sebagai karbonasi kemudian dicampur dengan minyak jelantah dan bleaching earth. Setelah itu dimasak satu jam, dan perlu dilakukan proses pengendapan selama 24 jam. Kemudian tahapan terakhir yaitu disaring dan minyak sudah bisa digunakan kembali.

Kini, di Rumitek yang berada di Desa Pandantoyo Kertosono, ada 40 orang yang tergabung. Menurut Rama, tidak ada ikatan jual beli di Rumitek. Tak hanya itu, ia juga kerja sama dengan 15 desa untuk mengambil limbah kulit bawang merah.

Melihat hasil yang mulai berbuah dari usahanya menjalankan Rumitek dan melihat semangat warga yang tinggi dalam merintis inovasi penyulingan minyak, membuat Rama termotivasi untuk mengikuti pemilihan Pemuda Pelopor Tingkat Nasional 2023 yang diadakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI). “Saya ingin menunjukkan bahwa di Nganjuk ada pemuda dan masyarakat yang bekerjasama menekuni usaha penyulingan minyak, agar pemerintah bisa melihat dan memotret masyarakat Nganjuk yang semangat berinovasi, dan mampu menciptakan perputaran ekonomi” tambah Rama.

Usaha yang panjang dilakukan Rama untuk mencapai tingkat nasional, dimulai dari seleksi tingkat Kabupaten dan Provinsi yang dilalui dengan penuh persiapan matang. Usaha yang dilakukannya tidak sia-sia ketika panitia seleksi tingkat nasional menetapkannya sebagai Juara 2 Pemuda Pelopor Tingkat Nasional Tahun 2023 Kategori Inovasi dan Teknologi.

“Sebelum ikut pemuda pelopor, saya dan tim bergerak jemput bola ke masyarakat untuk mencari kulit bawang dan mengunjungi tempat warga beraktivitas yang menghasilkan banyak minyak agar mau bergabung dengan pengolahan minyak di Rumitek, namun setelah ikut Pemuda Pelopor, kegiatan kami banyak disupport oleh Pemerintah  dan kesadaran warga mulai tinggi akan manfaat penyulingan minyak yang kami jalankan sehingga kami fokus ke operasional di Rumitek tidak perlu menjemput bahan-bahan produksi ke warga” ungkap Rama.

Ia mengungkapkan perjalanannya masih panjang setelah berhasil meraih juara 2 Pemuda Pelopor Tingkat Nasional Tahun 2023, saat ini ia rutin mendatangi acara ke berbagai desa dan wilayah lain untuk melakukan sosialisasi produknya, mengontrol operasional penjernihan minyaknya, melakukan evaluasi lanjutan atas produknya, kemudian terus menjalin kerja sama dengan berbagai stakeholder untuk mengembangkan inovasi yang digagas olehnya.

“Kita sebagai pemuda jangan pernah menyia-nyiakan masa muda begitu saja, kita boleh bermain atau berekspresi sesuai dengan anak muda tetapi perlu diingat bahwa masa muda itu singkat dan kita harus membuat sesuatu yang berkesan di usia produktif kita. Minimal bisa berkontribusi untuk lingkungan sekitar, lebih bagus jika membantu skala nasional.” Pesan rama untuk pemuda Indonesia. (rez/much).

BAGIKAN :
PELAYANAN